Pages

Sharon Woolley, Dikira Cuma Sembelit Ternyata Ada Kanker Ganas di Tubuh Bocah Ini


Selama berbulan-bulan Sharon Woolley harus bolak-balik ke rumah sakit untuk mengantarkan putranya yang sakit. Dokter mengatakan anaknya hanya menderita sembelit atau susah buang air besar. Namun setelah 11 kali konsultasi, baru diketahui ada kanker ganas di tubuhnya.

Perut Charlie (5 tahun) buncit layaknya wanita hamil. Untuk menemukan penyakit, sang ibu Sharon Woolley harus bolak-balik ke rumah sakit selama 5 bulan. Selama itu dokter hanya mengatakan putranya mengalami sembelit alias susah buang besar.

Barulah setelah 11 kali konsultasi, dokter melakukan pemeriksaan scan dan menemukan ada tumor ganas di dalam perutnya. Charlie didiagnosis dengan neuroblastoma, kanker langka dan agresif dengan salah satu tingkat kelangsungan hidup terendah.

Sharon sangat marah dengan keterlambatan diagnosis ini, yang berarti membuat peluang hidup putranya semakin kecil. Menurut dokter, peluang hidup Charlie hanya tinggal 40 persen.


Charlie Woolley

Delay: Sharon Woolley claims she was sent home by doctors ELEVEN times in five months before her son Charlie was finally diagnosed with an aggressive form of childhood cancer
Delay: Sharon Woolley claims she was sent home by doctors ELEVEN times in five months before her son Charlie was finally diagnosed with an aggressive form of childhood cancer
Happier times: Charlie, before he fell ill. The delay in diagnosing his cancer means his chance of survival is now less than 40 per cent
Happier times: Charlie, before he fell ill. The delay in diagnosing his cancer means his chance of survival is now less than 40 per cent



"Jika kita tidak lalai begitu banyak begitu lama dan Charlie telah didiagnosis sebelumnya, mungkin dia akan memiliki peluang yang jauh lebih baik hari ini," ujar sang ibu, Sharon Woolley, yang berasal dari Lytham St Annes, Inggris, seperti dilansir Dailymail, Rabu (13/3/2013).

Kini Sharon hanya berharap putranya cukup kuat untuk melawan penyakit mengerikan ini. Meski demikian, ia merasa sangat marah ketika dokter selalu gagal menemukan penyakit anaknya, hingga 11 kali dalam 5 bulan baru memberikan diagnosis penyakit parah yang mematikan.

"Ketika ia akhirnya didiagnosa menderita kanker, saya begitu marah kenapa belum terlihat sebelumnya," tambah Sharon.

Charlie pertama mulai mengeluh sakit perut pada bulan Januari tahun lalu. Dia juga menolak untuk makan dan tampak pucat. Sharon, yang sudah berpisah dari ayah Charlie, lantas membawanya ke dokter umum.

Dokter mengatakan kepada Sharon bahwa itu mungkin hanya sembelit. Tetapi masalahnya semakin memburuk selama beberapa minggu dan perut Charlie mulai membengkak.

Sharon sudah membawa Charlie ke berbagai dokter, bahkan dirujuk ke Blackpool Victoria Hospital, di mana putranya hanya mendapatkan obat pencahar dan dokter menyuruhnya pulang.

"Saya sangat khawatir dengan Charlie. Dia memiliki sakit perut yang parah terus-menerus dan perutnya bengkak. Dia didiagnosis dengan Sindrom Asperger (salah satu bentuk autis) ada usia 3 tahun, dan mereka mengatakan bahwa sembelit dapat menjadi masalah bagi anak-anak autis," jelas Sharon.

Berulang kali konsultasi ke dokter, Charlie hanya diberi obat pencahar. Bahkan pada konsultasi untuk ke-9 kalinya, perut Charlie sudah sangat bengkak hingga tampak seperti wanita hamil 9 bulan.


Battling: Charlie was only diagnosed with neuroblastoma after he was seen by doctors for the 11th time - and his mother insisted on a scan Battling: Charlie was only diagnosed with neuroblastoma after he was seen by doctors for the 11th time - and his mother insisted on a scan
Fight: Charlie's mother said that even before he was diagnosed, he was unable to stand because of the pain



Ia harus berhenti sekolah karena menderita sakit yang begitu parah. Ia tidak bisa berjalan dengan baik karena tak bisa berdiri lurus. Untuk berpindah tempat, Charlie harus merangkak.

Dalam keputusasaan, Sharon bahkan sudah menelepon dokter anak yang biasa menangani Sindrom Asperger, namun dokter itu pun tak dapat membantu. Barulah setelah kunjungan ke-11 kali dan kembali dirujuk ke Blackpool Victoria Hospital, dokter memintanya untuk melakukan CT scan.

Dari Blackpool Victoria Hospital, Charlie dirujuk ke Royal Manchester Children�s Hospital dan diberitahu bahwa ia menderita neuroblastoma, kanker masa kanak-kanak yang agresif.


Charlie

"Saya sangat terpukul, tapi saya tahu bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan anak saya. Dokter mengatakan kepada saya tumor di perutnya seukuran bola basket dan itu begitu besar sampai mereka bahkan tidak bisa melihat paru-paru atau hati di hasil scan," tutur Sharon.

Bila dapat terdeteksi pada stadium 2, pasien jenis kanker ini masih memiliki tingkat kelangsungan hidup sebesar 80-95 persen. Namun kanker Charlie sudah ditemukan pada stadium 4, di mana tingkat kelangsungan hidup turun menjadi kurang dari 40 persen.

Charlie saat ini sedang menjalani kemoterapi dan ia juga membutuhkan operasi untuk mengangkat tumor. Sharon juga tengah berusaha mengumpulkan dana demi membawa putranya ke Amerika untuk perawatan, dengan biaya sebesar � 250.000 (sekitar Rp 3,6 miliar).


Charlie Woolley

0 comments:

Post a Comment